Bilangan 20:2-13: Dosa Musa dan Harun

Dosa Musa dan Harun​.

Setelah belajar perikop Miryam Mati dari Kitab Bilangan, sekarang kita belajar perikop lanjutannya, yaitu Dosa Musa dan Harun.

Berikut ini tampilan ayat-ayat Firman Tuhan dalam Kitab Bilangan (Numbers 20:2-13 dengan judul perikop Dosa Musa dan Harun).

Kita belajar perikop Dosa Musa dan Harun ini dengan menggunakan tafsiran / catatan Wycliffe. Semua ayat dikutip dalam bentuk tulisan italic warna biru, sedangkan tafsiran / komentar dalam tulisan biasa.

Ayat Akitab dikutip dari software e-Sword, sedangkan komentarinya dari situs Alkitab.sabda.org. Yuk kita belajar.

Dosa Musa dan Harun (Kitab Bilangan 20:2-13)


Num 20:2 Pada suatu kali, ketika tidak ada air bagi umat itu, berkumpullah mereka mengerumuni Musa dan Harun,

Num 20:3 dan bertengkarlah bangsa itu dengan Musa, katanya: "Sekiranya kami mati binasa pada waktu saudara-saudara kami mati binasa di hadapan TUHAN!

Num 20:4 Mengapa kamu membawa jemaah TUHAN ke padang gurun ini, supaya kami dan ternak kami mati di situ?

Num 20:5 Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membawa kami ke tempat celaka ini, yang bukan tempat menabur, tanpa pohon ara, anggur dan delima, bahkan air minumpun tidak ada?"

Num 20:6 Maka pergilah Musa dan Harun dari umat itu ke pintu Kemah Pertemuan, lalu sujud. Kemudian tampaklah kemuliaan TUHAN kepada mereka.

Num 20:7 TUHAN berfirman kepada Musa:

Num 20:8 "Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya."

Num 20:9 Lalu Musa mengambil tongkat itu dari hadapan TUHAN, seperti yang diperintahkan-Nya kepadanya.

Num 20:10 Ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: "Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?"

Num 20:11 Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum.

Num 20:12 Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: "Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka."

Num 20:13 Itulah mata air Meriba, tempat orang Israel bertengkar dengan TUHAN dan Ia menunjukkan kekudusan-Nya di antara mereka.

Dari Padang Gurun Zin Hingga Padang Rumput Moab (20:1-22:1)


Dapat disimpulkan dari 33:36, bahwa pada akhir masa pengembaraan, bangsa Israel berada di Ezion-Geber, yaitu di pantai ujung utara Teluk Akabah.

Dari sana mereka memasuki padang gurun Zin di mana terdapat oasis yang dinamakan Kadesy, sebuah istilah yang di 33:36 menunjuk ke suatu wilayah yang luas.

Bangsa itu meminta untuk melewati Edom melalui jalur perdagangan kuno, jalan raya raja, namun permohonan mereka itu tidak dikabulkan.

Pasal-pasal ini menunjukkan, bahwa Edom, Moab, orang Amori dan orang Kanaan menguasai banyak benteng yang sudah kokoh di Negeb dan Trans-Yordan.

Ketika berkemah di Gunung Hor, Israel berperang dan mengalahkan Arad orang Kanaan.

Sesudah itu (21:4), mereka melanjutkan perjalanan menuju ke selatan melalui Yam Suph (inilah Teluk Akabah) untuk mengelak pertempuran dengan orang Edom.

Akhirnya mereka bergerak ke utara di Lembah Araba hingga mereka sampai di Wadi Zered.

Mereka kemudian melintas di antara Edom dan Moab di wilayah Lembah Zered, menghindari Moab dengan bergerak di timur Moab dan terus ke utara menuju ke Arnon, lalu ke barat lagi ke jalan raya raja.

Wilayah yang berada di utara Sungai Arnon yang dinamakan "Padang Rumput Moba", mereka rebut dengan menaklukkan Raja Amori, Sihon, yang merebutnya dari orang Moab.

Wilayah tambahan di bagian timur Yordan diperoleh mereka dengan mengalahkan Og, raja Basyan.

Sisa kitab ini (sesudah kisah Bileam) mengisahkan persiapan generasi yang baru ini untuk penaklukan besar di bagian barat Yordan.

5. Tanpa pohon ara, anggur dan delima, bahkan air minumpun tidak ada. Gambaran dari Nelson Glueck mengenai pentingnya air di padang gurun Negeb (Rivers in the Desert, hlm. 20-25), membuat kita dapat memahami sikap Allah yang simpatik terhadap keluhan ini (hlm. 16).

8. Katakanlah ... kepada bukit batu itu ... demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka. Bukit batu yang mengeluarkan air menunjukkan bahwa air tersebut memang sudah ada di situ sebelumnya.

Mukjizatnya ialah cara Musa mengetahui di dalam bukit batu yang manakah terdapat air, dan kenyataan bahwa ia hanya perlu memerintahkan batu itu mengeluarkan air.

10. Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini? Mazmur 106:32-33 menyajikan tafsiran ilahi terhadap kata-kata ini.

Bangsa itu membuat Musa naik pitam dan "mereka memahitkan hatinya sehingga ia teledor dengan kata-katanya." Yang marah kepada bangsa itu bukan Allah, melainkan Musa. Karena itu kata gantinya kami adalah suatu bentuk penghujatan.

11. Memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali. Jika Musa hanya mengatakan saja kepada batu karang itu untuk mengeluarkan airnya, sebagaimana diperintahkan Allah, mukjizat itu tentu menunjuk kepada kekuasaan Allah.

Sebagaimana kita ketahui, Musa mengambil alih kedudukan Allah, melalui kata maupun tindakan.

12. Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel. (bdg. ay. 24). Dosa Musa ialah penolakan dengan sengaja untuk mengalihkan perhatian bangsa itu dari dirinya kepada kuasa Allah sehingga menguduskan Tuhan di hadapan bangsa itu.

Musa dan Harun sama-sama mendapat penghajaran karena dosa ini, sebab Allah memerintahkan Musa dan Harun: "Katakanlah ... kepada bukit batu itu."

Sesudah tindakan itu Allah berfirman: "Kamu (jamak) tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka."

13. Itulah mata air Meriba. Tempat itu tidak disebut Meriba lagi sesudah peristiwa ini, seperti halnya Refidim empat puluh tahun sebelumnya (Kel. 17:7); tetapi air itu kini disebut "air persengketaan" (meriba), sebab Israel bertengkar dengan Tuhan.

Perikop Selanjutnya: Edom Menolak Permintaan Orang ISrael Melalui Negerinya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel